©ptpn10
Setelah kemunduran Deli, Jember muncul sebagai daerah sentral penghasil tembakau cerutu bertaraf internasional, dengan 90% dari produksinya diperuntukkan bagi pasar ekspor. Meskipun ada kampanye global melawan konsumsi tembakau, produksi tembakau di Jember tetap stabil. Pada 2017, ekspor tembakau cerutu dari Jember mencapai nilai Rp 1,5 triliun dengan produksi mencapai antara 8 ribu hingga 9 ribu ton setiap tahunnya.
Dalam "History of Indonesia" yang ditulis oleh sejarahwan Belanda Bernard Hubertus Maria Vlekk pada 1959, disebutkan bahwa tembakau pertama kali diperkenalkan ke Asia, termasuk Nusantara, oleh orang Spanyol yang berkunjung ke Filipina.
Ketika VOC berfokus pada eksplorasi rempah-rempah di Nusantara pada abad ke-17, mereka juga tertarik pada potensi tanaman lain seperti teh, kopi, kelapa, tebu, dan tembakau di Jawa. Konsumsi tembakau berkembang di kalangan elite Eropa, termasuk raja-raja dan pejabat VOC, sebagai simbol status sosial.
Pada awal abad ke-19, Belanda mengganti sistem pertanian tradisional dengan pendekatan industri. Ini berdampak pada pembentukan perusahaan perkebunan, termasuk tembakau.
Tembakau ditanam di berbagai wilayah, namun hanya Deli, Klaten, dan Besuki yang berfokus pada produksi tembakau cerutu. Karakteristik tembakau voor-oogst dan na-oogst berbeda, dengan yang pertama digunakan untuk rokok kretek dan yang kedua untuk cerutu.
Pada tahap awal, Deli mendominasi ekspor tembakau cerutu, diikuti oleh Besuki dan Klaten. Namun, lahan di Deli berkurang seiring waktu, dan Klaten memiliki lahan terbatas. Besuki, khususnya Jember, menjadi produsen utama tembakau jenis na-oogst, yang dikenal sebagai BNO (Besuki Na-Oogst).
Di Jember, BNO diperkenalkan oleh George Birnie, seorang Belanda keturunan Skotlandia, pada tahun 1850. Dia mendirikan NV. Landbouw Matscapay Out Djember (NV LMOD) dan merekrut pekerja dari Blitar dan Madura. Tembakau cerutu mereka bersaing di pasar internasional, terutama dengan Kuba.
Sementara itu, tembakau cerutu dari negara-negara lain seperti Dominika, Brasil, Meksiko, dan lainnya masih belum bisa menyamai kualitas tembakau cerutu dari Indonesia dan Kuba.